Ilmu Titen Jadi “Ambyar” Gegara Perubahan Iklim

BMKG
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati membuka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada Kamis (7/10). (Dok. Humas BMKG)

 

TRENGGALEK – Fenomena perubahan iklim yang tengah dialami penduduk Bumi saat ini membuat ilmu titen yang jadi pegangan nelayan tradisional jadi ambyar. Pasalnya dinamika cuaca begitu dinamis sehingga sangat sulit diprakirakan lagi.

 

“Ilmu Titen sudah sangat sulit untuk dijadikan acuan. Cuaca dan iklim saat ini begitu sangat dinamis dan sukar untuk ditebak,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Trenggalek, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

 

Ilmu titen yang dikenal dalam falsafah Jawa adalah bagaimana memahami fenomena alam dengan mengamati tanda-tanda peristiwa penyertanya. Metodologi ini kerap digunakan oleh nelayan dan petani tradisional.

 

Namun, belakangan kondisi cuaca jadi sangat tidak menentu dan bahkan tidak stabil lagi dirasakan. Kondisi di wilayah lain sedang dilanda banjir sementara pada saat bersamaan ada wilayah yang kekeringan.

 

BMKG
Perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat. (Dok. Humas BMKG)

 

Kondisi perubahan iklim ini dirasakan penduduk Bumi dalam 30 tahun belakangan semakin parah. Penyebabnya adalah kenaikan suhu permukaan bumi akibat gas karbon dioksida di atmosfer yang  membuat efek rumah kaca.

 

Dwikorita menambahkan kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi tetapi juga mengubah sistem iklim. Sehingga memengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia. Seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian, termasuk ekosistem wilayah pesisir.

 

Nelayan Kerap Keliru Membaca Petanda Alam Akibat Perubahan Iklim

 

Akibat dari perubahan iklim bagi nelayan dan petani, tidak jarang nelayan harus pulang dengan tangan kosong ketika melaut. Karena salah membaca kondisi alam sehingga hasil melaut tidak maksimal. Bahkan, tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan dan jadi korban akibat badai dan gelombang tinggi.

 

“Perubahan iklim sendiri adalah peristiwa global, namun dampaknya dirasakan secara regional ataupun lokal. Tidak ada batasan teritorial negara,” imbuhnya.

 

BMKG
Ilmu titen yang kerap menjadi pegangan nelayan “ambyar” akibat perubahan iklim. (Dok. Humas BMKG)

 

Kondisi ini memacu BMKG untuk menggencarkan pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di daerah-daerah pesisir pantai. BMKG ingin nelayan dapat melaut, mendapatkan hasil, dan pulang dengan selamat.

 

Para nelayan diberikan pengenalan produk dan memahami informasi cuaca dan iklim maritim, cara membaca informasi maritim dan pengenalan alat-alat observasi. Tujuannya untuk meningkatkan keterampilan nelayan Indonesia dalam mengakses, membaca, menindaklanjuti dan mendiseminasikan informasi cuaca.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *